Komentar saya untuk tulisan Mbak Anis, supaya komentar ini tidak memenuh-menuhi blog beliau.
Mbak Anis yang sangat saya sayangi,
ada perumpamaan, mengenai manusia dan ilmu.
Pertama, ada yang bagai tanah pasir. Ia tak mampu mengikat air yang jatuh padanya, tak pula air itu membawa manfaat bagi makhluk di sekitarnya.
Kedua, ada yang bagai tanah yang keras, yang mampu menampung air. Air yang ditampungnya dapat memberi manfaat bagi makhluk lain. Hewan dan manusia dapat minum darinya. Namun demikian, ia tak mampu memanfaatkan air itu untuk dirinya sendiri.
Ketiga, ada yang seperti tanah yang gembur. Ia dapat menyerap air itu, dan tumbuhan pun dapat tumbuh padanya, kemudian memberi manfaat pula bagi hewan dan manusia. Karenanya, air yang jatuh padanya niscaya akan bermanfaat luas, baik untuknya sendiri, juga untuk makhluk di sekitarnya.
Kita tentu berharap seorang penyampai ilmu dapat bernasib seperti jenis tanah ketiga; ilmu yang dimilikinya, selain bermanfaat untuk orang lain, dapat bermanfaat pula bagi dirinya sendiri.
Namun, sesungguhnya perjuangan menuju Allah ini adalah milik pribadi kita masing-masing. Kita tidak dapat mengetahui isi hati orang lain, termasuk isi hati seseorang yang sedang menyampaikan ilmunya kepada kita. Tuluskah ia? Ataukah niatnya tercemari keinginan akan materi dan pujian belaka? Tapi, kita juga perlu bertanya pada diri kita sendiri; apakah mengetahui niatan sang penyampai ilmu betul-betul relevan dengan tujuan kita, yaitu untuk mengambil manfaat bagi perjuangan kita. Sepertinya… tidak.
Ya, pada akhirnya, perjalanan ini adalah milik kita sendiri-sendiri. Kalaupun tidak murni niat seseorang yang menyampaikan ilmu, mungkin memang hanya sebatas itulah perannya, sebagai perantara Allah menyampaikan kasih sayang-Nya kepada kita berupa ilmu. Sebagai orang yang mengambil manfaat dari ilmu para penyampai, dengan berprasangka baik, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an, yang bisa kita lakukan hanya berterima kasih dan berusaha menghormati mereka, serta sebisanya mendukung upaya mereka menyebarkan ilmu yang mereka punyai. Di luar itu… just wish them luck with their own struggles….